Mabit Qolbun Salim, “Karena Setiap Kita Akan Diuji”

Share

Jakarta – Alhamdulillah, akhirnya kegiatan Mabit di Masjid Daarut Tauhiid Jakarta kembali bisa dilaksanakan. Mabit (malam bina iman dan takwa) merupakan kegiatan rutin yang diadakan setiap bulan di Masjid Daarut Tauhiid Jakarta pada masa sebelum pandemi. Jumat-Sabtu (31 Des 2021- 1 Jan 2022) kegiatan mabit perdana dilaksanan kembali setelah sempat terhenti dua tahun.

Mabit kali ini mengangkat tema “Karena Setiap Kita akan Diuji”. Selain kegiatan kajian, dalam mabit dilaksanakan pula tilawah jama’i, sholat tahajud berjamaah dan sesi muhasabah.

Kenapa manusia merasakan sedih dalam hidup? Menjadi pertanyaan pembuka untuk para jamaah yang hadir malam itu. Ustadz Bendri Jaisyurrahman sebagai pemateri pertama dalam kegiatan di Masjid Daarut Tauhiid Jakarta membawakan tema utama tentang ujian kehidupan.

Kesedihan merupakan bentuk ujian sekaligus peringatan dari Allah. Jika hati merasa sedih, itu berarti manusia kekurangan asupan hati dan saatnya mendekat ke Allah. Tidak hanya tubuh yang membutuhkan asupan berupa makanan, hati pun membutuhkan asupan dengan ilmu-ilmu yang mendekatkan diri kepada Sang Penciptanya. 

Sudah fitrahnya manusia diciptakan dengan ujian. Karena dunia memang Allah jadikan sebagai tempat ujian bagi manusia. Dari ujian-ujian yang diberikan manusia diperintahkan untuk mengumpulkan bekal terbaik untuk kembali ke kampung halaman yaitu surga.

Surga merupakan tujuan akhir dari perjalanan manusia. Tidak ada rasa sedih ataupun sakit di surga. Karena surga tempat berakhirnya mereka yang lulus dari ujian di dunia, maka tak ada lagi ujian di surga.  

Melanjutkan bahasan tentang ujian pada malam harinya, kajian selepas Subuh oleh Ustadz Dadang Sukandar membahas  bentuk ujian dan tujuan dari adanya musibah. Ustadz Dadang menyampaikan, “Setiap manusia pasti akan diuji dan ujian yang Allah berikan berbeda-beda kepada setiap orang.”

“Dan Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali untuk dihisab)” (QS al Baqarah: 155-156).

Apa perbedaan ujian dan musibah? Pertanyaan ini dilontarkan kepada jamaah yang hadir pada acara Mabit pagi itu. Menurutnya, musibah adalah sesuatu yang kita rasakan tidak menyenangkan. Kebalikannya adalah nikmat yaitu sesuatu yang kita rasakan menyenangkan. Sedangkan ujian bisa jadi berupa musibah ataupun nikmat.

“Tujuan Allah memberikan musibah pada manusia ada tiga. Pertama sebagai ujian. Kedua, untuk mengangkat derajat atau kedudukan di sisi Allah. Ketiga, sebagai peringatan untuk memperbaiki diri”, disampaikan Ustadz Dadang. 

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Rum: 41)

Apa pun bentuk ujian yang Allah berikan, semoga bisa menjadi sarana evaluasi diri kita agar lebih baik dan lebih taat kepada Allah. Juga sebagai bekal terbaik untuk kembali ke kampung halaman abadi. (Iyiz)

X
× Tanya Admin